Cerpen : KISAH NYATAKU
Setiap kali aku melintas di
setiap jalan raya, terlebih saat lampu merah menyala, selalu kuamati. Adakah
sosok ibuku di sana, di antara semua orang yang sedang berjalan itu? Kupandangi
wajah-wajah wanita yang tampak seperti sosok seorang ibu itu. Sungguh berharap
sosok seorang ibu di antaranya. Tak malu aku mengakui jika beliau memang ada
diantara mereka beliau, membawa beliau pergi untuk pulang bersama ku jika
beliau ada di depan mataku sekarang. Takkan ragu aku memeluknya, menciumnya
meski keadaannya kotor dan berdebu. Sungguh aku mau ibuku, aku ingin berbagi
kebahagiaan bersamanya namun semua itu hanya angan-angan ku saja.
Penantianku sudah pada puncaknya. Tujuh belas tahun bukanlah tahun, bukanlah waktu yang singkat. Terus menerus berharap, setiap hari berharap bisa bertemu dengan ibu. Dari saat aku masih di SD, saat aku berjalan lalu melihat ke jalan, mengamati jalanan untuk menemukan sosok ibu, hingga saat ini di mana aku sudah mengendarai motor sendiri. Setiap malam selalu berdoa, ingin dipertemukan dengan ibu, terkadang sampai menitikkan air mata, menahan kerinduan untuk bertemu beliau. Dam terkadang lebih sedih lagi ketika ku melihat ada keluarga yang terdiri dari ayah,anak,dan ibu aku iri karna sejak kulahir aku tidak pernah endapatkan iti semua. Hari inipun sama, aku tidak menemukan sosok ibuku. Ibu di manakah engkau? Tak rindukah engkau pada diriku? Begitu bencikah engkau pada anak mu ini? Ibu, aku ingin bertemu denganmu…
Mungkin kalian merasa heran, membaca ini tapi ini adalah kisah nyata dari ku yang menulis cerpen ini, dan mngkin kalian heran mengapa masih tetap mencarinya walau 17 tahun sudah berlalu. Saat ini ceritakan peristiwa 17 tahun yang lalu…
pada tahun 1993
Penantianku sudah pada puncaknya. Tujuh belas tahun bukanlah tahun, bukanlah waktu yang singkat. Terus menerus berharap, setiap hari berharap bisa bertemu dengan ibu. Dari saat aku masih di SD, saat aku berjalan lalu melihat ke jalan, mengamati jalanan untuk menemukan sosok ibu, hingga saat ini di mana aku sudah mengendarai motor sendiri. Setiap malam selalu berdoa, ingin dipertemukan dengan ibu, terkadang sampai menitikkan air mata, menahan kerinduan untuk bertemu beliau. Dam terkadang lebih sedih lagi ketika ku melihat ada keluarga yang terdiri dari ayah,anak,dan ibu aku iri karna sejak kulahir aku tidak pernah endapatkan iti semua. Hari inipun sama, aku tidak menemukan sosok ibuku. Ibu di manakah engkau? Tak rindukah engkau pada diriku? Begitu bencikah engkau pada anak mu ini? Ibu, aku ingin bertemu denganmu…
Mungkin kalian merasa heran, membaca ini tapi ini adalah kisah nyata dari ku yang menulis cerpen ini, dan mngkin kalian heran mengapa masih tetap mencarinya walau 17 tahun sudah berlalu. Saat ini ceritakan peristiwa 17 tahun yang lalu…
pada tahun 1993
Ketika ibu menikah dengan ayah
mereka hidup dikota samarinda….mereka selalu bergantian untuk menjaga ku,
hingga pada suatu hari ayah berkata,
“Bu,bagai mana kalau anak kita
ini kita antar ke berau saja dan kita titipkan pada neneknya di sana?”Pada saat
itu ibu langsung menjawab,”tidak aku tidak setuju untuk apa kita titipkan kalau
kita masih bisa merawatnya, akhirnya terjadilah pertengkaran diantara
mereka,”alasan ayah menitipkannya adalah agara kita bisa lebih konsen unutuk
menjalani kuliah kita,bu!”Ibu tetap tidak setuju dengan keputusan seperti itu.
Setelah perselisihan itu ternyata
ayah tetap nekat untuk mengirimku ke berau dan menititipkan ku pada nenek ku
diberau.akibat dari semua itu terjadilah konflik antra ibu dan ayah mereka
selalu berkelahi dan merusak semua yang ada dirumah,”kenapa ayah tetap mengirimya
ibu kan sudah bilang ibu tidak setuju! Ayah menjawab dengan seuara keras,”ini
demi kita juga dan ayah yikin ini adalah jalan terbaik untuknya” namun semua
yang dilakukan ayah justru bertolak belakang dengan keadaan sekarang, sehingga
ibu memutuskan untuk bercerai dengan ayah”ya, sudalah ayah itu egois ibu benci
ayah dan sebaiknya kita cerai saja ibu tidak tahan dengan semua ini.
Mereka pun bercerai dan di
situlah penderitaan ku mulai terlihat setelah aku kelas empat SD entah apa
salah ku ibu begitu benci ketiaka melihat ku awalanya aku tak tahu kalau beliau
adalah ibu ku,karna setiap lebaran beliau selalu berkunjung ke berau dan pada
saat itu aku melihat ibu sudajg memiliki suami baru dan begitu juga dengan ayah
semenjak ia cerai ia pun memiliki istri baru karna stiap minggu ayah selalu
berkunjung untuk menemui ku namun aku tidak begitu akrab dengan beliau karna
semnjak kecil aku di besarkan oleh nenek ku,kenapa hidupku harus seperti ini
tarkang ku melan\mun memikirkan ini semua dan hingga pada suatu hari nenek pun
menceritakan ini semua kepadaku”kamu yang sabar nenek juga tidak tahu kenapa
ibu mu tidak mau menganggap mu sebagai anak? Aku mengis mendengar semua itu,
hingga aku pun berkata” tapi salah ku apa nek hingga mereka tenga membiarkanku
seperti ini aku sangat merindukan mereka terutama ibu kanapa tidak pernah
melihatnya lagi semenjak kelas empat SD itu ?Nenek menjawab” dia tidak mau
bertemu dengan karana dia benci pada mu padahal kamu adalah anaknya ? Tapi
salah ku apa nek? Sambil ku menangis dan nenek memelukku “aku rindu ibu nek
walau pun dia benci pada ku akau tetap anaknya dan belau adalah ibu ku nek? Ibu
dimanaka engkau sekarang berada? Sekarang aku sudah besar dan berumur 17 tahun
aku merindukan mu
Sedih ketika pada malam tanggal
16 agustus pada saat itu aku di kukuhkan sebagai paskibraka di kabupaten berau
pada saat sebelum itu aku menangis di hotel di tempat aku dikarantina karna aku
pegen ibu yang menghadiri acara pengukuhan tersebut namu semua itu hanya mimpi
ku saja karana itu tidak akan terjadi dan yang datang pun hanya ayah saja aku
mengis dan iri sekali ketika melihat teman – teman yang lain bisa bertemu
dengan ibunya masing-masing pada saat itu aku menagis setelah ayah pulang tak
bisa ku bendung air mata ini hingga
teman-tema berkumpul dikamarku pada saat di hotel mereka bertanya sambil
memelukku”ada apa dengan mu temanku ? Dengan air mata yang menetes aku hanya
terdiam dan tak bisa menjawab. Walapun ku bahagia bisa memiliki mereka semua.
Pengibaran kami di kabupaten
berau sukses besar namun hati ku tetap saja sedih karna aku ingin
memperlahitkan hasil kerja kerasku ini kepada ibu yang melahirkan ku.
“ibu,dimanakah engkau berada
munculkan sosok mu ku ingin memeluk mu, ku merindukan mu, apakhsalah ku hingga
kau tidak mau mengakuiku
Ibu hidupku
akan terasa hampa bila aku tidak dapat menemukan ibu. Cintanya begitu besar
bagiku dan sudah saatnya aku membahagiakannya pula. Aku akan terus mencari
engkau ibu, dua puluh tahun, dua puluh luma tahun, tiga puluh tahun bahkan
sepanjang sisa hidupku akan tetap aku cari.
Aku merindukanmu… ibu memunculkan sosokmu…
Aku merindukanmu… ibu memunculkan sosokmu…
Sampai ku mati ku tetap mencintai
mu dan mendoakan mu semoga kau dalam keadaan sehat disana.
Aku sayang ibu.
Aku cinta ibu selamanya.












0 komentar:
Posting Komentar